LAPORAN PENELITIAN
DI PONDOK PESANTREN AL HUDA
JETIS
Disusun untuk memenuhi tugas
kelompok
Mata kuliah : Bahasa Indonesia
Dosen Pengampu : Komper Wardopo
![]() |
Disusun oleh :
KELOMPOK 1 /PAI/I F
1. Soleman
2. Sri
Sunarti
3. Nafisah
4. Nurin
Nahariyah
5. Muhamad Mustolih
INSTITUT AGAMA ISLAM NAHDLATUL
ULAMA
( IAINU ) KEBUMEN
TAHUN PELAJARAN 2015/2016
Jalan Tentara Pelajar No.55B
Kebumen 54312
KATA PENGANTAR
Syukur Alhamdulillah
Penulis panjatkan ke hadirat
Allah SWT, Laporan hasil penelitian dengan tema “Potret Pondok Pesantren
Al-Huda Jetis Desa Kutosari Kecamatan Kutosari Kabupaten Kebumen”dengan segala
keterbatasan dan kesederhanaan telah terselesaikan.
Laporan ini tidak mungkin dapat tersaji tanpa bantuan dan
keterlibatan banyak pihak. Untuk itu Penulis ucapkan banyak terima kasih kepada
:
1. Bapak
Drs.Komper Wardopo, M.Pd selaku dosen pembimbing
2. Bapak
KH.Wahib Mahfud selaku pengasuh pondok pesantren Al –Huda
3. Seluruh Jajaran Pengurus Pondok
Pesantren juga kepada seluruh santri Pondok Pesantren Al-Huda Jetis Kutosari
Kebumen
4. Ucapan terimakasih yang
sebesar-besarnya pula di sampaikan kepada semua pihak yang tidak mungkin
disebutkan satu persatu, begitu juga kepada rekan-rekan Mahasiswa IAINU Kebumen
yang telah memberikan dorongan moril pada saat melakukan penelitian.
Akhirnya, kesempurnaan hanya milik
Allah SWT, tegur sapa demi perbaikan di kemudian hari sangat di nanti, semoga
menjadi kebaikan bagi semua, Amin...
Kebumen, Oktober 2015
Peneliti
Kelompok 1
DAFTAR ISI
HALAMAN
JUDUL................................................................................... i
KATA
PENGANTAR ............................................................................... ii
DAFTAR ISI ............................................................................................... iii
BAB I PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang....................................................................... 1
B.
Rumusan Penelitian................................................................ 2
C.
Tujuan Penelitian.................................................................... 2
D. Metode,
Lokasi, dan Waktu Penelitian..................................
2
E.
Sistematika Penulisan.............................................................
3
BAB II PEMBAHASAN
A.
Profil Pondok Pesantren
Al-Huda.......................................... 5
B. Sejarah
Pendirian Pondok Pesantren Al-Huda.......................
7
C.
Metode Pembelajaran Pondok
Pesantren Al- Huda............... 12
D. Kiteria
Pondok Pesantren Al- Huda....................................... 14
BAB III
PENUTUP
A.
Kesimpulan............................................................................. 15
B.
Saran....................................................................................... 15
DAFTAR PUSTAKA
Lampiran,
Foto-Foto
BAB I
PENDAHULUAN
A.
LATAR BELAKANG MASALAH
Tak asing nampaknya dengan sebutan Pondok Pesantren di telinga kita,
Pondok pesantren adalah lembaga pendidikan tradisional Islam untuk
mempelajari, memahami, mendalami, menghayati, dan mengamalkan ajaran Islam
dengan menekankan pentingnya modal keagamaan sebagai pedoman perilaku
sehari-hari. Sejak
saat itu, lembaga pesantren tersebut telah mengalami banyak perubahan dan
memainkan berbagai macam peran dalam masyarakat Indonesia.
Secara historis, Pondok Pesantren dikenal di Indonesia
sejak zaman Walisongo. Ketika itu Sunan Ampel mendirikan sebuah padepokan di
Ampel Surabaya dan menjadikannya pusat pendidikan di Jawa. Para santri yang
berasal dari pulau Jawa datang untuk menuntut ilmu agama. Bahkan di antara para
santri ada yang berasal dari Gowa dan Talo, Sulawesi.
Pesantren Ampel merupakan cikal bakal berdirinya
pesantren-pesantren di Tanah Air. Sebab para santri setelah menyelesaikan
studinya merasa berkewajiban mengamalkan ilmunya di daerahnya masing-masing.
Maka didirikanlah pondok-pondok pesantren dengan mengikuti pada apa yang mereka
dapatkan di Pesantren Ampel.
Materi yang dikaji adalah ilmu-ilmu agama,
seperti fiqih, nahwu, tafsir, tauhid, hadist dan lain-lain. Biasanya mereka
mempergunakan rujukan kitab turost atau yang dikenal dengan kitab kuning. Di
antara kajian yang ada, materi nahwu dan fiqih mendapat porsi mayoritas. Hal
itu karena mereka memandang bahwa ilmu nahwu adalah ilmu kunci. Seseorang tidak
dapat membaca kitab kuning bila belum menguasai nahwu. Sedangkan materi
fiqih karena dipandang sebagai ilmu yang banyak berhubungan dengan kebutuhan
masyarakat (sosial). Tidak heran bila sebagian pakar meneybut sistem pendidikan
Islam pada pesantren dahulu bersifat “fiqih orientied” atau “nahwu
orientied”.
Pada
zaman walisongo, pondok pesantren memainkan peran penting dalam penyebaran
agama Islam di pulau Jawa. Juga pada zaman penjajahan Belanda, hampir semua
peperangan melawan pemerintah kolonial Belanda bersumber atau paling tidak
dapat dukungan sepenuhnya dari pesantren.
Selanjutnya,
pondok pesantren berperan dalam era kebangkitan Islam di Indonesia telah terlihat dalam dua dekade terakhir ini.
Akhirnya, pada awal abad ke-21 ini, dalam konteks peran Amerika Serikat melawan
terorisme dan penangkapan pelaku peledakan bom di Bali dan sejumlah tempat lainnya, pondok pesantren dituding memainkan peran
sebagai lembaga pendidikan yang menyebarkan ajaran Islam ekstrim.
B.
RUMUSAN
PENELITIAN
Berdasarkan
latar belakang masalah tersebut diatas, maka dapat dirumuskan pertanyaan
penelitian sebagai berikut :
1.
Bagaimana profil Pondok Pesantren Al- Huda Jetis Kebumen?
2.
Bagaimana metode pembelajaran dalam pondok pesantren Al-
Huda Jetis Kebumen?
3.
Bagaimana cara
pengembangan untuk memajukan pondok pesantren AL-Huda Jetis Kebumen?
C.
TUJUAN
PENELITIAN
Adapun tujuan dilakukannya penelitian ini adalah sebagai berikut :
1.
Untuk memperoleh data profil Pondok Pesantren Al-Huda Jetis
Kebumen.
2.
Untuk mengetahui
bagaimana metode pembelajaran dalam pondok pesantren Al- Huda Jetis Kebumen.
3.
Untuk mengetahui
bagaimana untuk mengembangkan pondok pesantren
Al-Huda Jetis Kebumen.
D.
METODE,
LOKASI, WAKTU DAN SUMBER DATA PENELITIAN
1.
Metode
Penelitian
Untuk mengetahui dan memperoleh data yang dibutuhkan,
maka penulis menggunakan beberapa teknik pengumpulan data diataranya :
Ø
Observasi
Observasi dilakukan untuk memperoleh data dari
lapangan dengan melalui pengamatan secara langsung terhadap objek
penelitian. Data yang dimaksud antara lain perilaku keseharian para
santri baik selama di dalam lingkungan pesantren maupun selama berada di dalam
proses pembelajaran atau penyelenggaraan pengajian kitab.
Ø
Wawancara
Teknik ini dilakukan dengan cara melakukan dialog atau
tanya jawab secara langsung dengan sejumlah responden, baik santri, kyai atau
ustadz, serta pihak-pihak yang terkait dengan penelitian ini. Data yang
dibutuhkan adalah masalah persepsi, sikap, dan respon para responden tekhadap
pembelajaran di Pondok Pesantren Al-Huda Jetis Kutosari Kebumen.
Ø
Dokumentasi
Teknik ini pada dasarnya lebih mengutamakan kerja
penulisan atau pencatatan atau rekaman (recording) tentang setiap objek yang
diteliti. Akan tetapi, pencatatan terhadap data-data yang berbentuk catatan
atau dokumen dijadikan sebagai pilihan prioritas.
Ø
Studi Kepustakaan
Studi kepustakaan adalah salah satu upaya membangun
kepercayaan (trustworthinnes) sebuah penelitian. Teknik ini penulis
lakukan dengan cara memperlajari dan mengkaji berbagai sumber referensial
mengenai kepersantrenan.
2.
Lokasi
Penelitian
Lokasi penelitian ini dilakukan di
Pondok Pesantren Al Huda Jetis, Kebumen yang beralamat di Kutosari Kecamatan Kebumen
Kabupaten Kebumen.
3.
Waktu
Penelitian
Waktu dilakukan untuk penelitian ini adalah dua Minggu, Tanggal 12 Oktober sampai 26 Oktober 2015.
4.
Sumber
Data
a.
Sumber data Primer,
yaitu orang-orang yang terlibat dalam Pondok Pesantren Al-Huda Jetis Kutosari
Kebumen
b.
Sumber data Skunder,
yaitu studi pustaka yang menunjang data-data tertulis, baik berupa buku,
website, blog, artikel dan sejenis lainnya.
BAB
II
PEMBAHASAN
A.
PROFIL
PONDOK PESANTREN AL- HUDA
Pondok pesantren Al- Huda adalah pondok
pesantren yang berbasik sekolah,
santri
tidak hanya belajar ilmu Agama
saja tetapi juga belajar ilmu umum,
di
Pondok Pesantren Al-Huda membuka pendidikan sekolah Menengah Pertama (SMP VIP
AL-HUDA), Sekolah
menengah Atas (SMA VIP AL- HUDA) Dan juga membuka sekolah Menengah Kejuruan
(SMK VIP AL- HUDA) dengan jurusan kesehatan dan otomotif dengan kurikulum yang
memadai seperti halnya sekolah umum negri.
I.
Visi
Visi Pondok
Pesantren Al Huda Jetis adalah sebagai berikut :
1.
Membentuk pribadi santri yang sholeh atau sholihah.
2.
Membentuk pribadi santri yang mulya bermanfaat bagi sesama.
3.
Membentuk santri agar mahir dalam belajar kitab kuning dan Al- Quran.
II.
Misi
Pondok Pesantren Al Hudah Jetis memiliki Misi antara lain :
1.
Mempersiapkan santri menjadi Da’i atau Da’iyah.
2.
Mempersiapkan santri untuk siap terjun ke masyarakat.
3.
Mempersiapkan santri agar menjadi seorang tafidz.
III.
Strategi
Berikut adalah strategi pengajar yang ada di Pondok
Pesantren Al Huda Jetis :
1.
Melakukan sistem pengajaran yang baik dan efektif,
2.
Melatih santri trampil berpidato, ceramah, memimpin tahlilan
dll.
3.
Melakukan proteksi
kepada santri dari pengaruh negatif yang datangnya dari luar pesantren.
4.
Melakukan kerjasama dengan Pondok Pesantren yang lain.
5.
Merekrut tenaga pengajar profesional di bidang dakwah.
IV.
Struktur Organisasi Pondok Pesantren
Al- Huda
Ø Struktur Organisasi Pondok Putra Al-Huda :
Pengasuh : KH. Wahib Mahfud
Kepala Pondok Putra : Qomarudin
Sekretaris :
Fathul Manan
Bendahara : Munawarul Qolbi
Seksi – seksi :
Seksi Kurikulum : Ustadz Akhmad Marzuki
Seksi Kesantrian : Ustadz AC.Mujib
Seksi Humas : Ustadz Ahmad Ulin Nuha
Seksi Kebersihan : Ustadz Fajar Prigel
Seksi Keamanan :Ustadz Akhmad Mudof
Ø Struktur Organisasi Pondok Putri Al- Huda :
Pengasuh : KH. Wahib Mahfud
Kepala Pondok Putri : Siti Aniroh
Sekretaris :
Umi Azizah
Bendahara : Nafisah
Seksi – seksi :
Seksi Kurikulum : Ustadzah Siti Mutmainnah
Seksi Kesantrian : Ustadzah Ulfa
Seksi Humas : Ustadz Anti Malihatun
Seksi Kebersihan : Ustadzah Lia khusnul
Seksi Keamanan : Ustadzah Isnaeni Ngasirotun
B.
SEJARAH
BERDIRINYA PONDOK PESANTREN AL- HUDA
Sebelum mempunyai nama Al-Huda, Pondok Pesantren di
Jetis Kutosari Kebumen ini lebih dikenal dengan sebutan Pondok Pesantren Jetis.
Didirikan kurang lebih pada tahun 1880 Masehi oleh K.H. Abdurrahman. Semasa
kecil beliau bernama Solihin, berasal dari desa Gebrek Ambal Kebumen. Beliau
diberi tugas menggembala kerbau oleh pamannya selama bertahun-tahun. Pada suatu
hari salah satu kerbau gembalaannya ada yang hilang, beliau dimarahi oleh
pamannya dan dituntut harus mencari sampai ketemu. Akhirnya beliau mencari
sampai ke pesisir laut. Karena kerbaunya tidak ketemu, beliau kebingungan,
tidak berani pulang dan menangis sambil berjalan terus ke arah timur. Orang
tuanya sangat sedih dan menganggap putranya yang bernama Solihin itu telah meninggal
dunia dimangsa binatang buas. Selama berhari-hari beliau berjalan kaki ke arah
timur dan akhirnya beliau sampai di Pondok Pesantren Wringin Agung Jawa Timur.
Beliau mengaji dengan sungguh-sungguh di sana sehingga menguasai banyak Ilmu Agama.
Suatu hari beliau sowan/matur kepada Kyainya untuk
melanjutkan mengajinya di Makkah. Pak Kyainya memperbolehkannya dengan syarat
harus ziarah terlebih dahulu ke Pamijahan Jawa Barat dan pamitan dengan Orang
tuanya. Akhirnya beliau pulang ke rumah untuk pamitan dengan Orang tua dan
ziarah ke Pamijahan Jawa Barat. Pada saat beliau pamitan dengan Orang tuanya
beliau mengaku sebagai musafir yang ingin beristirahat dan bermalam. Sambil
beristirahat beliau berdialog dengan orang tuanya itu dan menanyakan berapa
jumlah anaknya dan di mana saja. orang tuanya menjawab mempunyai beberapa anak,
yang pertama bekerja di sana, yang kedua bekerja di sana dan seterusnya serta
yang bernama Solihin hilang entah di makan harimau atau ke mana. Beliau
menanyakan lagi tentang ciri-ciri anak bernama Solihin yang hilang itu. Orang
tuanya menjawab bahwa ciri-cirinya adalah di punggungnya ada toh/tahi lalat
nya. Akhirnya pada saat beliau akan melanjutkan perjalanan, beliau mengaku
merasa masuk angin dan minta orang tua itu untuk memijat dan mengerikinya.
Begitu akan dikeriki orang tuanya melihat bahwa di punggung beliau ada “toh”nya
dan orang tuanya yakin bahwa beliau adalah Solihin putranya. orang tuanya
menangis terharu dan bahagia sambil meneriakkan “Solihin hidup kembali”
berulang-ulang. Setelah itu, mereka melanjutkan dialognya tentang kisah
perjalanan hidupnya dan beliau minta ijin untuk meneruskan perjalanan ziarah ke
Pamijahan Jawa Barat dan melanjutkan mencari ilmu di Makkah. Orang tuanya pun
merestui dan memberikan ijin kepadanya.
Setelah ziarah dari Pamijahan Jawa Barat, beliau sowan
lagi kepada Pak Kyainya di Wringin Agung Jawa Timur untuk melaksanakan
keinginannya belajar di Makkah. Akhirnya beliau berangkat ke Makkah dan
menuntut Ilmu Thariqoh di Jabal Qubbais kepada Syekh Abdur Rauf dan dilanjutkan
kepada Syekh Sulaiman Zuhdi. Setelah beberapa tahun akhirnya beliau mempunyai
ilmu yang tinggi dan menjadi Mursyid serta diberi nama baru yaitu “K.H.
Abdurrahman”. Selanjutnya beliau pulang ke Tanah Air Indonesia.
Di Tanah Air Indonesia beliau mengajarkan Ilmu
Thariqah di Desa Kelahirannya yakni Ambal Kebumen. Karena pengajiannya sambil
memutar tasbih akhirnya ajaran beliau difitnah dan dilaporkan ke Penjajah
Belanda bahwa Mbah Abdurrahman sedang mengajarkan membuat bom untuk memberontak.
Akhirnya beliau ditangkap Pasukan Belanda dan dibawa ke Pusat Pemerintahan
Belanda di Kebumen. Setelah ditanyakan kepada para Kyai kepercayaan pimpinan
penjajah penguasa Kebumen saat itu, ajaran beliau dinyatakan aman dan tidak
berpotensi memberontak. Namun pimpinan Penjajah masih khawatir dengan ajaran
Mbah Abdurrahman, dan untuk mempermudah dalam mengawasinya pimpinan penjajah
meminta agar Mbah Machfudz ditempatkan di sekitar perkotaan. Pimpinan penjajah
menanyakan kepada para Kepala Desa bahwa siapa diantara mereka yang desanya mau
ditempati seorang Kyai. Kepala Desa Kutosari mengacungkan telunjuk pertama kali
bahwa Desanya membutuhkan seorang Kyai.
Akhirnya Mbah Abdurrahman dibuatkan rumah dan Musholla tempat mengaji di dukuh Jetis dekat sungai Lukulo yang saat itu masih berupa perbukitan yang lebat dan angker. Beliau mengajarkan ilmu agama Islam dan Thariqah Naqsyabandiyah Kholidiyah di Jetis hingga beberapa tahun dan dikaruniai beberapa anak sebagai berikut :
Akhirnya Mbah Abdurrahman dibuatkan rumah dan Musholla tempat mengaji di dukuh Jetis dekat sungai Lukulo yang saat itu masih berupa perbukitan yang lebat dan angker. Beliau mengajarkan ilmu agama Islam dan Thariqah Naqsyabandiyah Kholidiyah di Jetis hingga beberapa tahun dan dikaruniai beberapa anak sebagai berikut :
1.
Mbah Husain
2.
Mbah Hasbullah
3.
Mbah Suhaemi
4.
Mbah Kaelani
Mbah Husain mendampingi Bapaknya Mbah Abdurrahman
dalam perjuangan dakwahnya di Jetis. Mbah Hasbullah dijadikan Mursyid oleh Mbah
Abdurrahman tapi disuruh menyebarkan di Kota Kajoran Mranggen Magelang, Mbah
Suhaemi bermukim di Tepakyang Temanggal, sedangkan Mbah Kaelani belajar di
Makkah.
Mbah Abdurrahman meninggal dunia pada Hari Jum’at saat
melakukan sujud tilawah dalam Shalat Shubuh. Sepeninggal Beliau Kemursyidan
diserahkan kepada Mbah Husain anak pertamanya, tetapi beliau hanya bisa mengasuh
kurang lebih selama tiga tahun. Karena mbah Husain tidak mempunyai anak
laki-laki, akhirnya masyarakat, jama’ah thariqoh, dan para badal menghendaki
agar Mbah Hasbullah segera pulang dari Magelang untuk meneruskan Kemursyidan
Mbah Abdurrahman di Jetis. Awalnya Mbah Hasbullah keberatan karena sudah mapan
dan mempunyai banyak jama’ah di Magelang. Karena di desak oleh masyarakat
Kebumen kemudian beliau melakukan istikharah. Dalam istikharahnya Mbah
Hasbullah berkata bahwa beliau mimpi dikejar-kejar oleh Mbah Abdurrahman dengan
dibawakan upet (pejut berapi) untuk segara pulang ke Jetis. Akhirnya beliau
pulang ke Jetis dan menjadi Mursyid selama beberapa tahun. Mbah Hasbullah
dikaruniai 5 anak, yaitu :
1.
K.H Machfudz
2.
Nyai Syekh ‘umar
3.
Nyai Maemunah
4.
Nyai Khoiriyah
5.
Hasyim
Mbah Hasbullah meninggal saat melaksanakan Tawajuhan.
Sepeninggal wafat Kemursyidan diserahkan kepada putra pertamanya yakni K.H.
Machfudz. Sejak diasuh beliau Pondok Pesantren Jetis diberi nama Al-Huda.
Semasa mudanya beliau pernah mengenyam pendidikan diberbagai pondok, antara
lain pondok Termas selama kurang lebih 2 tahun, kemudian dilanjutkan ke pondok
Bendo, Kediri, yang saat itu diasuh oleh Syekh Ghozin, yang kemudian beliau
dinikahkan dengan salah satu putri beliau yang bernama Nyai Maimunah. Atas
pernikahannya beliau dikaruniai 17 putra dan putri, namun yang hidup hanya 6
putra dan 6 putri, yaitu :
1.
Kyai. Abdul Kholiq
2.
Kyai. Juwaini
3.
Nyai. Umi Kulsum
4.
Nyai. Khasanah
5.
Nyai. Masruroh
6.
Kyai. Makhrus
7.
Nyai. Hayati
8.
Kyai. Muahaimin
9.
Nyai. Siti Ma’rifah
10.
Nyai. Siti Muhayaroh
11.
Kyai. Wahib Machfudz
12.
Kyai. Yazid Macfufudz
Semasa sugeng Syekh Machfudz wasiat kepada para
pendamping dan badal-badalnya yang isinya : “Sak pungkurku sing nerusaken
Kholiq, sak pungkure Kholiq sing nerusaken Wahib”, Adapun yang diwasiati adalah
:
Ø
K.H. Machfudz Iskandar
Ø
K.H. Khamid - Kajoran
Ø
K.H. Husin - Tamanwinangun
Ø
Bu Nyai Machfudz
Ø
Bu Nyai Romlah
Setelah beliau wafat sesuai wasiat Syekh Machfudz
Kemursyidan dipegang oleh putranya yang sulung K.H. Abdul Kholiq. Beliau wafat setelah
memimpin Pondok Pesantren hanya selama 11 bulan. Setelah beliau wafat sesuai
wasiat Syekh Machfudz juga Kemursyidan diteruskan oleh adiknya yaitu syaikhina
wamurabbiruhina K.H. Wahib Machfudz.
Semasa mudanya K.H. Wahib Machfudz menempuh pendidikan
umum sampai tingkat tsanawiyah, kemudian beliau mondok di Lirap asuhan K.H.
Durmuji Ibrohim, pada tahun 1974-1978. setelah itu beliau melanjutkan di pondok
Al-Barokah, Kawunganten Cilacap, setelah merasa cukup kemudian beliau
melanjutkan mondoknya di Pondok Pesantren Al-Falah Ploso pada tahun 1980-1983
yang diasuh oleh K.H. A. Djazuli Usman, bersama putranya K.H. Zainuddin Djazuli
yang mengasuh Pondok Putra dan K.H. Nurul Huda yang mengasuh Pondok putri.
Setelah dianggap cukup kemudian beliau pulang untuk meneruskan perjuangan
kepemimpinan pondok pesantren Al-Huda Jetis sampai sekarang.
Beliau menikah dengan salah seorang putri keturunan Raden Kolopaking yang bernama Nyai Hj. Nur Hasanah dan telah dikaruniai 3 putra dan 3 putri, yaitu :
Beliau menikah dengan salah seorang putri keturunan Raden Kolopaking yang bernama Nyai Hj. Nur Hasanah dan telah dikaruniai 3 putra dan 3 putri, yaitu :
1.
H. Muhammad Fatihunnada
2.
H. Zidni Rohman
3.
Asnal Mala
4.
Ziaul Haq
5.
Nayli Syifa
6.
Fittamami
Beliau juga sudah mempunyai seorang menantu yang
menikah dengan putrinya Ning Asnal Mala yaitu H. Ulin Nuha Shodiq Suhaemi putra
Bapak K.H. Shodiq Suhaemi Pengasuh Pondok Pesantren Al-Hikmah Benda Sirampog
Brebes dan telah dikaruaniai seorang anak bernama Kevin Billah yang menjadi
cucu pertamanya K.H. Wahib Machfudz.
Kepengurusan Pondok Pesantren Al-Huda mulai ditata sejak diasuh oleh Mbah Kholiq. Adapun nama-nama Ketua Pondok Pesantren Al-Huda adalah sebagai berikut :
Kepengurusan Pondok Pesantren Al-Huda mulai ditata sejak diasuh oleh Mbah Kholiq. Adapun nama-nama Ketua Pondok Pesantren Al-Huda adalah sebagai berikut :
1.
K. M. Mahmudi (Thowil)
2.
K. Sugeng Ulil Wafie (Almarhum)
3.
Suhud
4.
K. Fakhruddin
5.
Farkhanudin
6.
Chayyun Mubarok
7.
Akhmad Komarudin
8.
Nasihin
9.
Fajar Shodiq
10. Zaenal
Arifin
C.
METODE PEMBELAJARAN PONDOK PESANTREN
AL- HUDA.
1.
Jadwal Kegiatan Rutin Pondok
Pesantren Al- Huda
Waktu
belajar ngaji di Pondok Pesantren Al- Huda
setiap selesai sholat Subuh, setelah sholat duhur, setelah sholat
Ashar dan setelah sholat Magrib, berikut jadwalnya :
Ø Ba’da sholat subuh :
·
Untuk kelas sifir : Fasholatan
·
Kelas 1,2,3 : Juz Amma
·
Kelas 4,5,6 :
Sorogan Al- Quran
Ø Ba’da sholat duhur :
Istirahat
persiapan Madrasah
Ø Ba’da sholat ashar :
·
Bandungan kitab Fathul Qorib bersama Agus Ujer
·
Madrasah diniyah.
Ø Ba’da sholat Maghrib :
Pembelajaran
kitab nahwu (Jurumiyah, Murodan, I’rob )
Ø Ba’da sholat Isya :
·
Bandungan kitab kuning bersama Romo Kyi Wahib Mahfud
·
Pembelajaran kitab sorof (Tasrif,I’lal,khaylani )
2.
Jadwal Madrasah Diniyah Pon.pes Al-
Huda
Ø Kelas Sifir :
·
Ala La Tanalu
·
Aqidatul ‘Awam
·
Mabadi Juz 1
·
Syifaul Janan
·
Imla
Ø Kelas Jurumiyah :
·
Atho’u dzil jalal
·
Jurumiyah Ploso
·
Mabadi Juz 3
·
Khulasoh Nurul Yaqin
·
Bahasa Arab
·
Jawahirul Kalamiyah
Ø Kelas I’mrihti :
·
Tijan Durori
·
Imrithi
·
Qowaidul Irob
·
Izzi
·
Riyadul Badi’ah
·
Ta’limul muta’allim
Ø Kelas Alfiyah I :
·
Fathul qorib I
·
Alfiyah I
·
Risalatul Mahid
·
Q.Fiqhiyyah I
·
Qowaidus Sorfiyah
Ø Kelas Alfiyah II :
·
Fathul qorib I
·
Maqsud
·
Alfiyah II
·
Q.Fiqhiyyah II
Selain
kajian seperti di atas terdapat pula kegiatan khas pesantren salaf yakni
pembacaan Kitab Alberjanzi, Latihan Khitobah, serta tahlil yang
dilaksanakan setiap malam Jum’at.
D.
KITERIA PONDOK PESANTREN AL –HUDA.
Ø
Asrama/Pondokan
Pondok
Pesantren Al-Huda memiliki asrama/pondokan untuk santri putra sebanyak 3 komplek yang masing- masing
komplek,komplek A terdiri 6 Kamar,Komplek B terdiri 11 kamar,Komplek C terdiri 11 kamar.untuk
santri putri ada 2 pondok,yaitu pondok putri AL-huda I dan Pondok Putri Al-Huda
2,masing masing terdiri dari 11 kamar. Semuanya tidak jauh dari tempat tinggal
dari keluarga Kyai, hal ini dimaksudkan agar lebih mudah untuk mengadakan
pengawasan terhadap santri itu sendiri. Satu Kamar untuk para pengurus terpisah
dengan kamar santri berada di sudut ujung pesantren, hal ini juga dalam rangka
untuk memudahkan pemantauan terhadap para santri dari jarak jauh, serta tempat
menjemur pakaian juga tidak jauh dari pondokan masing-masing.Jumlah
kepengurusan santri putra terdiri 15 pengurus dan putri terdiri 13
pengurus.dengan mengurusi santri putra yang berjumlah 490 sedangkan santri
putri terdiri 550 santri.semua santri dibawa asuhan Romo KH.Wahib Mahfud.
BAB
III
PENUTUP
A.
KESIMPULAN
1.
Philosofi pendirian
pondok Pesantren Al-Huda adalah sebagai sarana untuk mengamalkan ilmu sang kyai
sehingga bermanfaat bagi manusia.
2.
Profil Pondok Pesantren
Al-Huda telah memenuhi kriteria sebuah pesantren, mulai dengan adanya Kyai,
santri, masjid/musollah, asrama, dan adanya kajian kitab kuning.
B.
SARAN
1.
Philosofi pendirian
pondok pesanten hendaklah di ikuti oleh pesantren yang lain sehingga suasana
agamis penuh keikhlasan akan semakin tampak dan menonjol bukan saja materi
orientid.
2.
Profil pondok pesantren
Al-Huda telah memenuhi prasyarat sebuah pesantren yang diakui oleh Pemerintah,
sehingga diharapkan adanya perhatian yang lebih dari pemerintah pusat, propinsi
maupun kabupaten sehingga pesantren dijadikan mitra kerjasama dalam segala
bidang terutama pendidikan dan penanaman karakter Islami (akhlak mulia).
