Agus Salim menilai berumah di Mekah membuat seorang ulama tak akrab dengan problem yang dihadapi umat di Indonesia. Ia merujuk pada ayah Hamka, Haji Abdul Karim Amrullah, yang belajar di Mekah sebentar lalu pulang ke Tanah Air dan mendirikan Sumatera Thawalib, sekolah Islam modern pertama di Nusantara.
“Masalah agama yang timbul di Indonesia, yang memecahkan masalahnya adalah orang Indonesia sendiri. Karena itu ayahmu adalah ulama Indonesia,” tandasnya.
Mekah pada saat itu masih menjadi tujuan para calon ulama Indonesia. Di sana sebelumnya ada Syaikh Akhmad Khatib al-Minangkabawi (1852-1915), paman Agus Salim yang menjadi imam mazhab Syafi’i di Masjidil Haram. Agus Salim sendiri, Ahmad Dahlan (pendiri Muhammadiyyah), maupun Hasyim Asy’ari (pendiri Nahdlatul Ulama) adalah murid-muridnya. Kendati satu guru, mereka memiliki gaya perjuangan berislam yan g berbeda.
Ahmad Dahlan dan Agus Salim memiliki kesamaan dalam menampilkan Islam. Keduanya sama-sama bergabung dalam Muhammadiyah dan Sarekat Islam Ahmad Dahlan resmi menjadi anggota Sarekat Islam sejak erdiri pada 1910 dan Agus Salim lima tahun kemudian. Belakangan, Agus Salim menjadi orang dua setelah Haji Omar Said Tjokroaminoto di organisasi tersebut.
Ketika Ahmad Dahlan mendirikan Muhammadiyah pada 1912, tidak lama kemudian Agus Salim bergabung. Keduanya terpisah ketika Agus Salim memimpin disiplin organisasi dalam Sarekat Islam: setiap orang hanya boleh bergabung dalam satu organisasi. Agus Salim bertahan di Sarekat Islam dan Ahmad Dahlan memilih Muhammadiyah.
Meski memiliki guru yang sama, selama di Nusantara ketiga tokoh ini jarang bertemu karena lebih banyak menghabiskan waktu di daerah masing-masing. Namun Agus Salim pernah berpesan ketika kedua teman seperguruannya itu membangun pesantren;
“Ajari santrimu agar jangan mendewakan guru hingga melupakan Nabi Muhammad.” [Zq]
*Sumber: Majalah Tempo, Agustus 2013, hal. 74-75
Tidak ada komentar:
Posting Komentar